Perumusan TIK dalam MPI

PERUMUSAN TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)
DALAM MODEL PENGEMBANGAN INSTRUKSIONAL
PADA MATA PELAJARAN FISIKA KELAS X SEMESTER 1
DI SMA NEGERI 17 PALEMBANG


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai seorang Guru ataupun seorang pengembang desain instruksional di suatu lembaga pendidikan, diperlukan suatu Perencanaan Proses Pembelajaran yang efektif dan efisien. Oleh karena itu sebelum melaksanakan proses pembelajaran di kelas seorang guru harus mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran atau skenario pembelajarannya dengan baik. Perencanaan pembelajaran yang dikembangkan sebaiknya mengikuti kaidah-kaidah pengembangan desain instruksional secara sistematis dan benar.
Menurut Suparman (2004), sebelum seorang guru atau pengembang desain instruksional membuat produk desain instruksional yang baik harus melakukan delapan langkah-langkah, sesuai dengan bagan Model Pengembangan Instruksional (MPI). Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pengembangan desain intsruksional, sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi Kebutuhan Instruksional dan Menuliskan Tujuan Instruksional Umum (TIU).
2. Melakukan Analisis Instruksional.
3. Mengidentifikasi Perilaku dan Karakteristik Awal Siswa.
4. Menuliskan Tujuan Instruksional Khusus (TIK).
5. Menulis Tes Acuan Patokan.
6. Menyusun Strategi Instruksional.
7. Mengembangkan Bahan Instruksional.
8. Mendesain dan Melaksanakan Evaluasi Formatif.
Dalam melaksanakan desain instruksional, delapan langkah-langkah tersebut sangat penting, karena dari setiap langkah tersebut memiliki fungsi dan tujuan masing-masing yang saling berkaitan dalam mencapai tujuan dari suatu proses pembelajaran.
Pada umumnya seorang guru belum melaksanakan ke delapan langkah tersebut dalam membuat suatu perencanaan pembelajaran atau dalam mendesain instruksional pembelajarannya. Hal ini disebabkan karena ada bagian dari kedelapan langkah tersebut yang telah di lakukan oleh pemerintah, yaitu Mengidentifikasi Kebutuhan Instruksional dan Menuliskan Tujuan Instruksional Umum (TIU) yang di cantumkan/ditetapkan dalam silabus kurikulum Nasional.
Walaupun dalam perumusan kurikulum SMA sekarang menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang memberikan kewenangan bagi tiap sekolah untuk mengembangkan kurikulumnya sesuai dengan kondisi sekolah masing-masing, namun penentuan TIU/Kompentensi Dasar (KD) tetap harus menggunakan TIU yang ditetapkan secara nasional ini. Hal inilah yang menyebabkan penyusunan desain pengembangan instruksional atau perencanaan pembelajaran yang dibuat oleh guru khususnya dalam merumuskan Tujuan Instruksional Khusus seringkali tidak efektif dan tidak sistematis, bahkan tidak sesuai dengan kebutuhan instruksional, karena penyusunan TIU secara nasional didasarkan pada kebutuhan instruksional secara nasional umumnya, bukan atas dasar analisis kebutuhan instruksional pada masing-masing sekolah. Masalah ini juga umumnya terjadi pada mata pelajaran Fisika di SMA, guru fisika di SMA seringkali kurang tepat dalam menyusun Tujuan Instruksional Khusus (TIK) / dalam kurikulum KTSP disebut Indikator pencapaian, sehingga tidak sesuai dengan kebutuhan instruksionalnya.
Dari latar belakang di atas penulis tertarik untuk membahas tentang bagaimana mendesain pengembangan instruksional yang tepat khususnya pada langkah ke empat, yaitu merumuskan Tujuan Instruksional Khusus (TIK)/Indikator pencapaian pada mata pelajaran Fisika kelas X semester 1 di SMA Negeri 17 Palembang dalam desain Model Pengembangan Instruksional.

B. Pembatasan Masalah
Dari latar belakang di atas, terdapat delapan langkah dalam mendesain pengembangan instruksional. Tentunya pada masing-masing langkah akan terdapat permasalahan yang berkaitan dengan kemampuan guru/pendesain instrusional dalam membuat desain instruional tersebut. Makalah ini dibatasi pada pembahasan tentang bagaimana “merumuskan tujuan instruksional khusus/Indikator pencapaian” pada mata pelajaran Fisika kelas X semester 1 di SMA Negeri 17 Palembang.

C. Rumusan Masalah
Dari latar belakang dan pembatasan masalah di atas, yang menjadi rumusan masalah pada makalah ini adalah:
Bagaimana merumuskan Tujuan Instruksional Khusus (TIK)/Indikator pencapaian pada mata pelajaran Fisika kelas X semester 1 di SMA Negeri 17 Palembang?

D. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang benar bagi mahasiswa ataupun guru tentang bagaimana merumuskan tujuan instruksional khusus (TIK)/Indikator pencapaian, sesuai dengan kaidah-kaidah penyusunan desain pengembangan instruksional.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Model Pengembangan Instruksional
Pengembangan instruksional adalah terminologi yang berkembang sejak kurang lebih dua puluh lima tahun yang lalu. Penerapannya di Indonesia mulai populer dengan penggunaan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI) pada permulaan tahun 1970 yang mengiringi kurikulum 1975 dan terus berkembang hingga sekarang, yaitu kurikulum KTSP untuk sekolah tingkat dasar dan menengah.
Menurut Suparman (2004 : 37), pengembangan instruksional adalah proses yang sistematis dalam mencapai tujuan instruksional secara efektif dan efisien melalui pengidentifikasian masalah, pengembangan strtegi dan bahan instruksional, serta pengevaluasian terhadap strategi dan bahan instruksional tersebut untuk menentukan apanya yang harus direvisi.
Penggunaan pendekatan sistem dalam pengembangan instruksional telah menghasilkan berbagai model. Beberapa model pengembangan instruksional dengan menggunakan model pendekatan sistem dalam Suparman (2004), diantaranya:
1. System Approach for Education (SAFE), oleh Corrigan tahun 1966
2. Michigan State University Instructional Systems Development Model, oleh Barson tahun 1967
3. Project MINERVA Instructional Systems Design, oleh Tracey tahun 1967
4. Teaching Research System, oleh Hamreus tahun 1968
5. Banathy Instructional Development System, oleh Banathy tahun 1968
Secara garis besar setiap model tersebut dapat dibagi dalam tiga tahap, yaitu: tahap definisi, tahap analisis dan pengembangan sistem, dan tahap evaluasi. Seorang pengembang instruksional dapat memilih salah satu diantaranya yang dianggap sesuai, atau mungkin pula mengkombinasikan beberapa diantaranya untuk menyusun suatu model baru.
M. Atwi Suparman dalam bukunya berjudul Desain Instruksional (2004), memberikan suatu model yaitu Model Pengembangan Instruksional (MPI), yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip belajar dan instruksional. Model tersebut terdiri atas tiga tahap dan setiap tahap terdiri dari beberapa langkah.
Tahap pertama, definisi. Terdiri dari tiga langkah, yaitu :
1. Mengidentifikasi Kebutuhan Instruksional dan Menuliskan Tujuan Instruksional Umum (TIU).
2. Melakukan Analisis Instruksional.
3. Mengidentifikasi Perilaku dan Karakteristik Awal Siswa.
Tahap kedua, analisis dan pengembangan sistem. Terdiri dari empat langkah, yaitu :
1. Menuliskan Tujuan Instruksional Khusus (TIK).
2. Menulis Tes Acuan Patokan.
3. Menyusun Strategi Instruksional.
4. Mengembangkan Bahan Instruksional.
Tahap ketiga, evaluasi, yaitu :
Mendesain dan Melaksanakan Evaluasi Formatif
Bagan Model Pengembangan Instruksional, (Suparman, 2004:16)



MPI dimaksudkan untuk digunakan pada tingkat mata pelajaran dan kursus, tidak untuk program studi dan program yang yang bersifat lebih luas. Oleh karena itu populasi sasaranya adalah guru termasuk dosen, pelatih, dan pengelola program pendidikan dan latihan, yang baru bermaksud mengembangkan mata pelajaran atau kursusnya secara sistematis.
Langkah pertama, ini merupakan titik tolak dan sumber bagi langkah-langkah berikutnya. Oleh karena itu, kebingungan yang terjadi dalam langkah permulaan ini akan menyebabkan seluruh kegiatan pengembangan instruksional kehilangan arah. Pada langkah ini dikemukakan prosedur mengidentifikasi kebutuhan instruksional, dan berhenti setelah diperoleh prilaku umum yang perlu diajarkan pada siswa. Karena kedudukan analisis kebutuhan instruksional pada MPI merupakan bagian awal dari suatu proses pengembangan, maka proses tersebut tidak sampai pada pemberian perlakuan atau pelaksanaan kegiatan intruksional. Setelah dilakukan analisis kebutuhan instruksional dilanjutkan dengan perumusan Tujuan Instruksional Umum (TIU) atau dikenal dengan istilah Kompetensi Dasar (KD). Perumusan TIU dapat dikatakan sebagai hasil akhir dari analisis kebutuhan instruksional.
Langkah kedua, yaitu melakukan analisis instruksional. Kegiatan ini menjabarkan perilaku umum menjadi perilaku yang lebih kecil atau spesifik serta mengidentifikasi hubungan antara perilaku spesifik yang satu dengan yang lainnya. Proses menganalisis intruksional yang dilakukan oleh MPI didasarkan kepada berfikir logis, analitis, dan sistematis. Keterampilan melakukan analisis instruksional ini sangat penting artinya bagi kegiatan instruksional, karena pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus diberikan lebih dahulu dari yang lain dapat ditentukan dari hasil analisis instruksional. Dengan demikian, guru jelas melihat arah kegiatan instruksionalnya secara bertahap menuju pencapaian TIU. Ini berarti guru terhindar dari pemberian isi pelajaran yang tidak relevan dengan TIU.
Langkah ketiga adalah mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal siswa. Dalam langkah ini dikemukakan pendekatan menerima siswa apa adanya dan menyusun sistem instruksional atas dasar keadaan siswa tersebut. Oleh karena itu, langkah ini merupakan proses mengetahui prilaku yang dikuasai siswa sebelum mengikuti pelajaran, bukan untuk menentukan prilaku prasyarat dalam rangka menyeleksi siswa sebelum mengikuti pelajaran. Konsekuensi yang digunakan ini adalah : titik mulai suatu kegiatan instruksional tergantung kepada prilaku awal siswa. Hal ini sangat penting karena mempunyai implikasi terhadap penyusunan bahan belajar dan sistem instruksional.
Langkah keempat adalah merumuskan/menuliskan Tujuan Instruksional Khusus (TIK). Hasil akhir dari kegiatan mengidentifikasi prilaku dan karakteristik awal siswa adalah menentukan garis batas antara perilaku yang tidak perlu diajarkan dan perilaku yang harus diajarkan kepada siswa. Perilaku yang akan diajarkan ini kemudian dirumuskan dalam bentuk Tujuan Instruksional Khusus(TIK). Merumuskan TIK harus menggunakan empat komponen secara lengkap ABCD (Audience, Behavior, Condition, Degree). TIK menjadi dasar dalam menyusun kisi-kisi tes, dan merupakan alat untuk menguji validitas isi tes. Metode instruksional yang dipilih juga berdasarkan prilaku yang ada dalam TIK.
Langkah kelima adalah menuliskan tes acuan patokan yang bertujuan untuk mengukur sejauh mana tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan instruksional. Hasil pencapaian siswa ini juga merupakan petunjuk sejauh mana tingkat keberhasilan sistem instruksional yang digunakan. Menulis tes acuan patokan menggunakan tabel spesifikasi atau kisi-kisi sederhana agar dapat memenuhi kebutuhan seorang guru untuk menyusun tes yang konsisten dengan tujuan instruksional, baik yang bersifat kognitif, psikomotorik, maupun afektif.
Langkah keenam adalah menyusun strategi instruksional yang membahas hal-hal tentang bagaimana sebaiknya seorang guru mengatur urutan kegiatan instruksionalnya setiap kali ia mengajarkan suatu bagian dari mata pelajarannya. Stategi instruksional berkaitan dengan metode, media yang digunakan, waktu pelaksanaan, dan berapa besar usaha yang harus dilaksanakan guru dan siswa dalam mencapai tujuan instruksional.
Langkah ketujuh adalah mengembangkan bahan instruksional berdasarkan strategi intruksional dan tes yang telah disusun. Bahan instruksional dapat dikembangkan sesuai dengan bentuk kegiatan intruksionalnya. Seluruh bahan instruksional tersebut dikembangkan melalui proses yang sistematis atas dasar prinsip belajar dan prinsip intruksional, yaitu dapat berupa: pengembangan bahan belajar mandiri, pengembangan bahan pengajaran konvensional, dan pengembangan bahan PBS (Pengajar, Bahan, Siswa).
Langkah kedelapan adalah mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif. Evaluasi formatif dapat didefinisikan sebagai proses menyediakan dan menggunakan informasi untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan dalam rangka meningkatkan kulitas program instruksional. Oleh karena itu langkah ini membahas cara mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif terhadap bahan instruksional yang telah didesain. Faktor yang dievaluasi adalah pelaksanaan kegiatan intruksional dengan menggunakan bahan belajar, pedoman pengajaran, pedoman siswa, dan tes.

B. Merumuskan/menulis Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Tujuan Instruksional Khusus terjemahan dari specific instructional objective. Dick dan Carey (1985) dalam Suparman (2004), mengulas bagaimana Robert Mager mempengaruhi dunia pendidikan di Amerika untuk merumuskan TIK dengan kalimat yang jelas, pasti, dan dapat diukur, sejak pertengahan tahun 1960.
Perumusan TIK dengan jelas, artinya TIK yang diungkapkan secara tertulis dan diinformasikan kepada siswa sehingga siswa dan guru mempunyai pengertian yang sama tentang apa yang tercantum dalam TIK. Perumusan TIK secara pasti, artinya TIK tersebut mengandung satu pengertian, atau tidak mungkin ditafsirkan ke dalam pengertian yang lain. Untuk itu TIK dirumuskan dalam bentuk kata kerja yang dapat dilihat oleh mata (observable). Perumusan TIK yang dapat diukur, artinya bahwa tingkat pencapaian siswa dalam prilaku yang ada dalam TIK itu dapat diukur dengan tes atau alat pengukur lainnya.
Perumusan TIK merupakan titik permulaan yang sesungguhnya dari proses pengembangan instruksional, sedangkan proses sebelumnya merupakan tahap pendahuluan untuk menghasilkan TIK. Isi pelajaran yang akan di ajarkan juga didasarkan pada prilaku yang ada dalam TIK.
Tujuan Instruksional Khusus merupakan satu-satunya dasar dalam menyusun kisi-kisi tes, dan merupakan alat untuk menguji validitas isi tes, oleh karena itu TIK harus mengandung unsur-unsur yang dapat memberikan petunjuk kepada penyusun tes agar ia dapat mengembangkan tes yang benar-benar dapat mengukur prilaku yang terdapat di dalamnya.
Unsur-unsur itu dikenal dengan ABCD (Audience, Behavior, Condition, Degree), yaitu:
1. A = Audience adalah siswa yang akan belajar. Dalam Tujuan Instruksional Khusus harus dijelaskan siapa atau siswa yang mana yang akan mengikuti pelajaran itu. Batasan yang spesifik ini penting artinya agar dapat disadari sejak awal populasi sasaran, serta strategi yang tepat yang digunakan.
2. B = Behavior adalah prilaku spesifik yang akan dimunculkan oleh siswa setelah selesai proses belajarnya dalam pelajaran tersebut. Prilaku ini terdiri atas dua bagian penting, yaitu: kata kerja dan objek. Kata kerja menunjukkan bagaimana siswa mendemonstrasikan, dan objek menunjukkan apa yang akan didemonstrasikan. Komponen prilaku dalam TIK merupakan tulang punggung TIK secara keseluruhan, tanpa prilaku yang jelas komponen yang lain menjadi tidak bermakna.
3. C = Condition adalah kondisi, yang berarti batasan yang dikenakan kepada siswa atau alat yang digunakan siswa pada saat ia dites, bukan pada saat ia belajar. Komponen C dalam setiap TIK merupakan unsur penting bagi pengembang instruksional dalam menyusun tes.TIK harus mengandung komponen yang memberikan petunjuk kepada pengembang tes tentang kondisi atau dalam keadaan bagaimana siswa diharapkan mendemonstrasikan prilaku yang dikehendaki pada saat dites.
4. D = Degree adalah tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai prilaku yang dikehendaki dlam TIK. Komponen D dalam TIK merupakan unsur penting karena berkaitan dengan batasan minimal yang harus dikuasai siswa dalam pencapaian prilaku yang diharapkan.
Hubungan TIK dengan Isi pelajaran
Dengan merumuskan TIK kita telah dapat mengidentifikasi isi pelajaran yang akan diajarkan, sebab dalam komponen B yang terakhir yaitu objek akan menunjukkan topik atau materi dari isi pelajaran. Setiap topik dapat diuraikan menjadi sub topik, maka uraian yang rinci dalan TIK akan memudahkan pendesain instruksional dalam menulis atau memilih bahan pelajaran. Isi pelajaran untuk setiap TIK akan tergambar dalam strategi instruksional.


III. PEMBAHASAN

Dalam makalah ini akan di bahas mengenai perumusan Tujuan Instruksional Khusus (TIK) atau dalam kurikulum KTSP disebut Indikator pencapaian, pada mata pelajaran Fisika kelas X semester 1 di SMA Negeri 17 Palembang. Tujuan Instruksional Khusus dirumuskan berdasarkan pada Analisis Kebutuhan Instruksional dan Tujuan Instruksional Umum (TIU/KD), Analisis Instruksional, dan Analisis Karakteristik dan Prilaku awal siswa.
Di SMA Negeri 17 Palembang, tujuan Kurikuler dan rumusan TIU/KD pada mata pelajaran Fisika telah ditetapkan oleh pemerintah melalui silabus/kurikulum KTSP yang berlaku secara Nasional, sehingga langkah analisis kebutuhan intruksionalnya sudah tentu telah dilaksanakan oleh pendesain kurikulum KTSP itu sendiri. Oleh karena itu yang dapat dilakukan oleh guru sebagai penyusun desain instruksional di sekolah tentunya berawal dari TIU yang telah ditetapkan pemerintah, dilanjutkan dengan analisis intruksional, analisis karakteristik dan prilaku awal siswa, perumusan/penulisan TIK, dan seterusnya sampai pada mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif.
Pembahasan makalah ini lebih dikhususkan pada mata pelajaran Fisika kelas X semester 1 di SMA Negeri 17 Palembang, yaitu pada :
a. Tujuan Kurikuler/Standar Kompetensi (SK): 1. Menerapkan konsep besaran fisika, menuliskan, dan menyatakannya dalam satuan SI dengan baik dan benar (meliputi lambang, nilai, dan satuan).
b. Tujuan Instruksional Umum (TIU)/Kompetensi Dasar (KD): 1.1 Mengukur besaran-besaran Fisika dengan alat yang sesuai dan mengolah data hasil pengukuran dengan menggunakan aturan angka penting.


A. Melakukan Analisis Instruksional
Kegiatan ini menjabarkan perilaku umum menjadi perilaku yang lebih kecil atau spesifik serta mengidentifikasi hubungan antara perilaku spesifik yang satu dengan yang lainnya. Proses menganalisis intruksional yang dilakukan oleh Model Pengembangan Intruksional (MPI) didasarkan kepada berfikir logis, analitis, dan sistematis.
Dalam tahap ini prilaku yang akan dijabarkan adalah prilaku yang menjadi Tujuan Instruksional Umum (TIU/KD), yaitu: 1.1 Mengukur besaran-besaran Fisika dengan alat yang sesuai dan mengolah data hasil pengukuran dengan menggunakan aturan angka penting, menjadi prilaku-prilaku yang lebih kecil/spesifik dan mengidentifikasi hubungannya dalam rangka mendukung pencapaian tujuan instruksional umum/kompetensi dasar.
Prilaku-prilaku yang lebih spesifik tersebut adalah:
1. Memberikan contoh-contoh alat ukur yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari
2. Mengidentifikasi instrumen pengukuran yang berkaitan dengan besaran pokok panjang, massa, dan waktu
3. Menyiapkan instrumen pengukuran yang berkaitan dengan besaran pokok panjang, massa, waktu
4. Melakukan kalibrasi alat ukur pada setiap kegiatan pengukuran
5. Membaca nilai yang ditunjukkan alat ukur
6. Menentukan jumlah angka penting dalam suatu bilangan
7. Menuliskan hasil pengukuran sesuai aturan penulisan angka penting disertai ketidakpastiannya (batas ketelitian alat)
8. Mengolah data hasil pengukuran dengan menggunakan aturan angka penting
9. Menjelaskan macam-macam ketidakpastian dalam pengukuran
10. Menjelaskan pengertian kesalahan sistematik
11. Menjelaskan pengertian kesalahan acak
12. Menghitung kesalahan sistematik dalam pengukuran

Identifikasi hubungan prilaku-prilaku spesifik tersebut dapat digambarkan dalam bagan stuktur analisis instruksional berikut:




B. Mengidentifikasi Karakteristik dan Perilaku Awal Siswa
Dalam langkah ini dikemukakan pendekatan menerima siswa apa adanya dan menyusun sistem instruksional atas dasar keadaan siswa tersebut. Dalam langkah ini dilakukan analisis untuk mengetahui prilaku yang dikuasai siswa sebelum mengikuti pelajaran Fisika di kelas X semester 1 pada SMA Negeri 17 Palembang, sebelum mengikuti pelajaran.
Analisis ini dilakukan pada saat awal tatap muka sebelum masuk dalam materi dari proses pembelajaran, dilakukan dengan observasi dengan cara menggali informasi langsung dari siswa melalui pengenalan/pengantar materi yang akan disampaikan dan tes awal. Dari hasil observasi dan tes awal diperoleh data-data bahwa Karakteristik siswa yang ada dalam kelas sangat heterogen, ada di antara siswa yang sudah memiliki pengetahuan awal sebagai prasyarat, namun ada juga yang masih belum memiliki pengetahuan prasyarat yang cukup. Ada siswa yang memiliki gaya belajar audio, visual, dan kinestetik. Motivasi belajar siswa dalam pelajaran fisika cukup baik, hal ini dapat dilihat dari antusias siswa dalam mengikuti pembelajaran, misalnya beberapa sudah siswa aktif dalam tanya jawab ataupun menanggapi pertanyaan yang diberikan guru.
Selain analisis karakteristik siswa di atas, faktor lingkungan juga sangat penting. Berdasarkan data yang diperoleh melalui observasi/tanya jawab langsung dengan siswa mengenai faktor lingkungan, umumnya semua siswa mendapat dukungan yang baik dalam proses pembelajaran, baik dari faktor lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat ataupun lingkungan fisik siswa. Lingkungan keluarga siswa sangat mempengaruhi proses pembelajaran dan prestasinya, kerena itu dukungan dari orang tua memegang peranan penting. Pada faktor sekolah, ketersedian dan kondisi sarana prasarana juga menjadi hal yang tidak kalah pentingnya, umumnya sarana prasarana yang mendukung pencapaian tujuan instruksional di atas sudah cukup memadai. Lingkungan sekolah/masyarakat sekitar juga cukup kondusif dalam mendukung tercapainya proses pembelajaran dan hasil belajar siswa.
Berkaitan dengan prilaku-prilaku spesifik yang telah dirumuskan dalam analisis intruksional, dari hasil analisis karakteristik dan prilaku awal siswa di kelas X semester 1 pada SMA Negeri 17 Palembang, diperoleh data-data bahwa:
1. Secara umum siswa telah mengetahui contoh-contoh alat ukur yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari
2. Secara umum siswa telah dapat mengidentifikasi instrumen pengukuran yang berkaitan dengan besaran pokok panjang, massa, dan waktu
3. Secara umum siswa belum bisa menyiapkan instrumen pengukuran yang berkaitan dengan besaran pokok panjang, massa, waktu bila diminta untuk melakukan pengukuran
4. Secara umum siswa juga belum mampu melakukan kalibrasi alat ukur pada setiap kegiatan pengukuran
5. Secara umum siswa belum bisa membaca nilai yang ditunjukkan alat ukur
6. Secara umum siswa belum bisa menentukan jumlah angka penting dalam suatu bilangan
7. Secara umum siswa belum bisa menuliskan hasil pengukuran sesuai aturan penulisan angka penting disertai ketidakpastiannya (batas ketelitian alat)
8. Secara umum siswa belum mampu mengolah data hasil pengukuran dengan menggunakan aturan angka penting
9. Namun secara umum siswa telah dapat menjelaskan macam-macam ketidakpastian dalam pengukuran, yang telah diperolehnya pada pelajaran matematika
10. Secara umum siswa belum bisa menjelaskan pengertian kesalahan sistematik
11. Secara umum siswa belum bisa menjelaskan pengertian kesalahan acak
12. Dan secara umum siswa belum mampu menghitung kesalahan sistematik dalam pengukuran
Dari hasil analisis ini, maka dapat ditentukan prilaku spesifik mana yang dapat dijadikan rumusan penulisan Tujuan Instruksional Khusus (TIK) dalam desain pengembangan instruksional.


C. Merumuskan/Menulis Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Hasil akhir dari kegiatan mengidentifikasi prilaku dan karakteristik awal siswa adalah menentukan garis batas antara perilaku yang tidak perlu diajarkan dan perilaku yang harus diajarkan kepada siswa. Perilaku yang akan diajarkan ini kemudian dirumuskan dalam bentuk Tujuan Instruksional Khusus(TIK)/Indikator pencapaian.
Merumuskan TIK harus menggunakan empat komponen secara lengkap ABCD (Audience, Behavior, Condition, Degree). TIK menjadi dasar dalam menyusun kisi-kisi tes, dan merupakan alat untuk menguji validitas isi tes. Metode instruksional yang dipilih juga berdasarkan prilaku yang ada dalam TIK.
Berkaitan dengan Tujuan Instruksional Umum (TIU/KD): 1.1. Mengukur besaran-besaran fisika dengan alat yang sesuai dan mengolah data hasil pengukuran dengan menggunakan aturan angka penting, yang telah melalui proses analisis intruksional serta analisis karakteristik dan prilaku awal siswa, maka dapat dirumuskan/dituliskan Tujuan Instruksional Khusus (TIK/Indikator pencapaian) nya, sebagai berikut:
1. Jika tunjukkan macam-macam contoh alat-alat ukur dasar, siswa Kelas X Semester 1 SMA Negeri 17 Palembang akan dapat menyiapkan instrumen pengukuran yang berkaitan dengan besaran pokok panjang, massa, waktu minimal 3 dengan benar.
2. Jika diberikan demontrasi tentang teknik kalibrasi alat ukur, siswa Kelas X Semester 1 SMA Negeri 17 Palembang akan dapat melakukan kalibrasi alat ukur pada setiap kegiatan pengukuran minimal 80% tepat.
3. Jika diberikan demontrasi tentang teknik membaca nilai yang ditunjukkan alat ukur, siswa Kelas X Semester 1 SMA Negeri 17 Palembang akan dapat membaca nilai yang ditunjukkan alat ukur secara tepat minimal 80%.
4. Jika diberikan contoh tentang cara menuliskan hasil pengukuran sesuai angka penting, siswa Kelas X Semester 1 SMA Negeri 17 Palembang akan dapat menuliskan hasil pengukuran sesuai aturan penulisan angka penting disertai ketidakpastiannya (batas ketelitian alat) dengan benar minimal 80%.
5. Jika ditunjukkan contoh-contoh angka penting, siswa Kelas X Semester 1 SMA Negeri 17 Palembang akan dapat menentukan jumlah angka penting dalam suatu bilangan minimal 80% benar.
6. Jika ditunjukkan contoh-contoh operasi bilangan yang mengandung angka penting, siswa Kelas X Semester 1 SMA Negeri 17 Palembang akan dapat mengolah data hasil pengukuran dengan menggunakan aturan angka penting minimal 80% benar.
7. Jika ditunjukkan contoh-contoh kesalahan sistematis dan acak, siswa Kelas X Semester 1 SMA Negeri 17 Palembang akan dapat menjelaskan pengertian kesalahan sistematik minimal 80% benar.
8. Jika ditunjukkan contoh-contoh kesalahan sistematis dan acak, siswa Kelas X Semester 1 SMA Negeri 17 Palembang akan dapat menjelaskan pengertian kesalahan acak minimal 80% benar.
9. Jika ditunjukkan contoh-contoh perhitungan kesalahan sistematis dalam pengukuran, siswa Kelas X Semester 1 SMA Negeri 17 Palembang akan dapat menghitung kesalahan sistematik dalam pengukuran minimal 80% benar.


IV. KESUMPULAN

1. Model Pengembangan Instruksional merupakan urutan langkah-langkah kegiatan yang harus dilakukan pengembang instruksional dalam mendesain sistem intruksional, yang meliputi delapan langkah yaitu: menentukan kebutuhan instruksional dan merumuskan tujuan intruksional umum, melakukan analisis instruksional, mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal siswa, merumuskan tujuan instruksional khusus, menulis tes acuan patokan, menyusun strategi instruksional, mengembangkan bahan instruksional, dan mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif.
2. Di SMA Negeri 17 Palembang, tujuan Kurikuler dan rumusan TIU/KD pada mata pelajaran Fisika telah ditetapkan oleh pemerintah melalui silabus/kurikulum KTSP yang berlaku secara Nasional.
3. Perumusan TIK/Indikator pencapaian pada mata pelajaran Fisika di SMA Negeri 17 Palembang, didasarkan pada analisis instruksional dan analisis karakteristik dan prilaku awal siswa.
4. Merumuskan TIK yang benar harus menggunakan empat komponen secara lengkap ABCD (Audience, Behavior, Condition, Degree).


DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. 2004. Pedoman Umum Penyusunan Silabus Berbasis Kompetensi Dasar Siswa Sekolah Menengah Umum (SMA). Jakarta: Dikmenum.
Prawiradilaga, Dewi Salma. 2007. Prinsip Disain Pembelajaran, Instruction Design Principles. Jakarta: Kencana dan UNJ.
Suparman, M. Atwi. 1997. Desain Instruksional. Jakarta: PAU PPAI Universitas Terbuka.

0 komentar:

Posting Komentar