Ingatan (Memori) dan Lupa
INGATAN (MEMORI) DAN LUPA
Oleh: ASDIQI, MISSELINA, dan LUCY OKTAWANI M
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Setiap manusia pasti mempunyai pengalaman-pengalaman. Pengalaman-pengalaman itu akan disimpan dalam memori atau ingatan. Ingatan adalah hubungan antara pengalaman dengan masa lalu (Walgito, 2003:145). Dengan adanya kemampuan mengingat pada manusia hal ini menunjukan bahwa manusia mampu menerima, menyimpan dan menimbulkan kembali pengalaman-pengalaman yang dialaminya sewaktu-waktu dibutuhkan. Tetapi tidak seluruh pengalaman-pengalaman itu dapat diingat seluruhnya, dan pengalaman yang tidak ingat itu disebut lupa.
Menurut Gulo dan Reber (dalam Syah, 2005.), mendefinisikan lupa sebagai ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami. Tetapi bukan berarti apa telah dipelajari atau dialami hilang, hanya saja informasi tersebut terlalu lemah untuk ditimbulkan kembali.
Dengan dasar tersebut, kita perlu mempelajari tentang ingatan dan lupa. Kedua hal ini, tidak bisa dipisahkan. Membicarakan ingatan, pasti kita juga akan membicarakan lupa.
1.2. PERMASALAHAN
Setelah melihat dari latar belakang dalam bahasan ini, maka masalah yang perlu kita pelajari, yaitu :
1. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi ingatan ?
2. Bagaimana strategi dalam mengoptimalkan fungsi ingatan ?
1.3. TUJUAN
Adapun tujuan dari penyusunan, persentasi, dan pembahasan ini adalah :
1. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi ingatan
2. Mengetahui bagaimana strategi dalam mengoptimalkan fungsi ingatan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Landasan Teori
2.1.1. Konsep Memori
Dalam kamus lengkap psikologi (Chaplin 1999) memori diartikan sebagai :
1. Fungsi yang terlibat dalam mengenang / mengalami lagi pengalaman masa lalu.
2. Keseluruhan pengalaman masa lampau yang dapat diingat kembali.
3. Satu pengalaman masa lalu yang khas.
Menurut Kartono (1990 ) memori / ingatan adalah :
Kemampuan untuk mencamkan, menyimpan dan mereproduksi kembali hal-hal yang pernah di ketahui.
Sedangkan sifat-sifat dari ingatan yang baik adalah : Setia, Cepat, Lama, Luas, dan Siap.
Walgito (2003) mengatakan bahwa :
Memori adalah : kemampuan jiwa untuk memasukan (learning), menyimpan (retention) dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang telah lampau.
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, memori mempunyai 3 fungsi / proses, yaitu :
- Memasukan
- Menyimpan dan
- Menimbulkan kembali
Proses memunculkan kembali memori (record) yang tersimpan dalam memori permanen meliputi 3 cara, yaitu :
Recall : Proses memunculkan record tanpa isyarat
Recognition : Proses memunculkan record dengan bantuan .
Rekonstruksi inferensial : Digunakan bila isyarat hanya menyebabkan kemunculan sebagai record.
2.1.2. Struktur memori
Sistem memori manusia tersusun dari 3 komponen :
- Sensory Storage
- Short Term Memory
- Long Term Memory
Informasi ( Stimulasi dari Lingkungan ) terlebih dulu melalui sensory storage, lalu melewati short term memory dan pada akhirnya berakhir dalam long term memory.
Ketiga penyimpanan memory tersebut di tandai oleh ciri-ciri struktural, seperti : Seberapa banyak info yang di simpan (kapasitas) dan berapa lama info tersebut disimpan (Siegler, dalam Byrnes, 1996).
Sensory Storage ( Sensory Memori )
Merupakan komponen pertama system memori yang bertemu langsung dengan info yang masuk menerima semua info dari panca indra dan menyimpan info tersebut dalam waktu yang sangat singkat.
Byrnes 1996) menyebut komponen ini dengan sensory Buffer, yaitu detektor sensory yang terletak di panca indera dan bersama dengan sistem persepsi berfungsi menangkap, menginterprestasikan dan menyimpan informasi, atau pengalaman untuk masa yang singkat.
Meski bermaksan sama, namun kedua istilah tersebut, memiliki titik fokus sendiri-sendiri yang terkait dengan fungsinya. Istilah sensory buffer : lebih menekankan pada fungsinya sebagai penahan sementara terhadap info yang diterima, sedangkan istilah sensory memory lebih menekankan fungsinya sebagai penyimpan info.
Berdasarkan eksprimen yang telah dilakukan, kapasitas sensory storage sangat terbatas, misalnya : Bila disajikan 12 item, subjek hanya mampu menyimpan 40% dari item tersebut dan disimpan hanya selama 250 mili detik sampai 4 detik (solso,1998). Bila tidak mengalami pemerosesan lebih jauh, maka informasi yang disimpan dalam sensory storage akan segera hilang.
Keberadaan sensory storage memiliki dan implikasi pendidikan yang penting :
1. Bila ingin mempertahankan informasi lebih lama orang harus memberikan perhatian.
2. Untuk membawa semua info ke dalam kesadaran dalam satu waktu dibutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Agar info dalam sensory storage dapat diteruskan ke short-therm memory dibutuhkan perhatian. Perhatian adalah upaya mental berupa konsentrasi pada pristiwa-pristiwa sensory atau mental (Solso, 1998).
Menurut Calfee (Dalam Slavin, 1991) ada 3 aspek perhatian, yaitu :
1. Ketajaman & Sensitivitas / Resfektif terhadap stimulus.
2. Kemampuan memblok sebagian stimulus dan sensitivitas terhadap stimulus lain dan berkonsentrasi.
3. Kemampuan memfokuskan pikiran pada satu tugas.
Short Term Memory
Info yang disensasi panca indera dan mendapatkan perhatian, kemudian akan di transfer ke dalam sistem memori yang kedua, yaitu short term memory (STM) disebut juga memori kerja (Working Memory). STM merupakan komponen memori yang cukup banyak diteliti.
Ada 2 ciri penting yang dimiliki memori kerja, yaitu :
1. Menyaring informasi yang masuk.
2. Kapasitas dan durasinya yang terbatas karena tanpa rebersal info hanya dapat dipertahankan sekitar 5-9 item selama 10-20 detik pada orang dewasa (E.Gagne, dalam Eggen & Konchak 1997).
Tapi menurut Solso (1998) : Kapasitas STM adalah 7 item dengan durasi penyimpanan selama 10-30 detik.
Supaya info tersebut dapat bertahan lama dalam memory, ia harus dimasukan ke dalam long term memory dan untuk itu di perlukan strategi memori ( Slavin, 1991).
Long Term Memory ( Memori Permanen )
LTM merupakan bagian dari system memori yang dapat menyimpan info dalam masa yang lama.
Mengenai Kapasitas LTM ini terdapat 2 Asumsi :
- Asumsi pertama, menyatakan bahwa : Kapasitas LTM tidak terbatas (solso, 1998)
- Asumsi kedua, berkeyakinan bahwa info mengenai obyek disimpan dengan cara terpisah-pisah. Misalnya : Info seperti nama objek, bentuk objek tersebut. Semua disimpan pada tempat yang terpisah-pisah dalam LTM.
Bentuk informasi yang disimpan dalam LTM ini tergantung pada beberapa faktor, meliputi :
- Sumber Informasi
- Pengetahuan individu sebelmnya dan
- Jaringan struktural yang telah tersusun (Solso, 1998)
2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi memori
Kuat lemahnya memori seseorang dipengaruhi banyak faktor diantaranya :
1. Kondisi Fisik
Kondisi fisik yang sangat berpengaruh dalam mengingat adalah kelelahan, kurang tidur,dan sakit.
Hal ini disebabkan ketika dalam kondisi tersebut biasanya individu, mengalami kemunduran kemampuan mental yang disebabkan oleh gangguan fisik tadi.
2. Usia
Ingatan yang paling kuat terjadi pada masa anak-anak, yaitu pada usia 10 – 14 tahun. Sedangkan orang yang sudah lanjut usia akan mengalami jika diminta untuk mengingat kembali apa yang sudah dipelajari dan dialaminya.
3. Keahlian
Keahlian dalam sutu bidang mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam ingatan seseorang. Orang akan dapat mengingat bahan dan informasi baru dengan baik apabila ia memiliki latar belakang pengetahuan yang cukup baik di bidang tersebut.
4. Emosi
Aktivitas mengingat juga dipengaruhi oleh keadaan emosi seseorang. Pertama, dalam mengingat kata-kat orang cenderung mengingat lebih baik pada kata-kata yang menyenangkan daripada kata-kata yang menyedihkan. Kedua, kesamaan suasana hati, yaitu ingatan menjadi lebih baik jika bahan yang dipelajari sama dengan suasana hati yang berlangsung. Ketiga, ketergantungan dengan suasana hati. Ketergantungan ini terjadi apabila seseotang mengingat informasi lebih baik dalam susana hati sekarang yang sesuai denga suasana hati pada saat bahan itu pertama kali dipelajari.
5. Stres
Perasaan cemas dapat mempersempit fokus perhatian seseorang sehingga berbagai petunjuk penting yang menuntun memori menjadi hilang.
2.2 Strategi Optimalisasi Ingatan
Secara garis besar daya mengingat / kapasitas ingatan seseorang dapat dioptimalkan melalui latihan dan strategi-strategi tertentu. Adapun strategi & teknik dalam optimalisasi ingatan, sebagai berikut :
1. Imajeri Visual
Imajeri Visual yaitu gambaran mengenai sesuatu dalam pikiran. Misalnya mengingat kata Kerbau, orang dapat membayang kan dalam pikirannya gambar kerbau didalam buku atau seekor kerbau berada disawah.
2. Organisasi
Mengorganisasikan informasi sehingga membentuk satu tatanan / pola tertentu, berupa serial atau hirarki. Organisasi serial dapat dipergunakan ketika sesorang harus mengingat banyak kejadian.
3. Mediasi
Menggunakan mediasi / perantara. Cara ini dilakukan dengan menambahkan kata-kata atau gambar-gambar didalam materi yang akan diingat.
4. Simbol
Mengganti simbol terhadap objek yang ingin dingat, misalnya menggantikan simbol huruf dengan angka atau sebaliknya.
BAB. III
SIMPULAN DAN SARAN
3.1. SIMPULAN
Setelah mempelajari dan memahami materi tersebut, penyusun menyimpulkan bahwa ingatan dapat dioptimalkan dengan strategi yang tepat sesuai dengan kondisi.
3.2. SARAN
Selaku pendidik kita harus paham faktor mempengaruhi ingatan dan strategi penanggulangannya pada peserta didik sehingga informasi yang kita sampaikan dapat diterima, disimpan dan dimunculkan kembali apabila dibutuhkan.
DAFTAR PUSTAKA
Suryabrata, Sumadi, 1984. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada
Khodijah, Nyayu. 2006. Psikologi Belajar. Palembang: IAIN Raden Fatah Press
Kamis, November 26, 2009
|
Label:
Makalah
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
About Me
- Risyana
- Saya guru Fisika di SMA 17 Palembang. Senang berbagi pengalaman terutama hal-hal positif yang membangun.
0 komentar:
Posting Komentar